Kamis, 02 Juli 2020 | 22:18 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Ports
Kamis, 30 April 2020 16:12

Arus Ekspor Impor 2019 Melambat, Laba Bersih IPC Tumbuh 3%

Translog Today
(IPC)

JAKARTA -

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) / IPC mencatat laba bersih 2019 sebesar Rp2,503 triliun, naik 3% dibandingkan perolehan tahun sebelumnya Rp2,43 triliun. Sementara, pendapatan usaha mencapai Rp11,14 triliun, turun 2,5% dari setahun sebelumnya Rp11,43 triliun.

Adapun kewajiban penyetoran pajak kepada negara tercatat senilai Rp1,172 triliun atau naik Rp8 miliar dari tahun sebelumnya. Sedangkan deviden yang disetorkan ke negara Rp832,7 miliar atau naik Rp178,8 miliar dibandingkan 2018.

“Di tengah melambatnya arus ekspor-impor pada 2019, IPC berhasil melampaui perolehan laba bersih 2018. Ke depan, kami akan terus melakukan inovasi untuk menjaga tren positif perolehan laba bersih perseroan,” kata Direktur Utama IPC Arif Suhartono, Kamis (30/4).

Sepanjang 2019, IPC juga berhasil membukukan peningkatan nilai aset korporasi sebesar Rp608 miliar, yakni dari Rp51,4 triliun menjadi Rp.52,04 triliun.

Arif menjelaskan, pendapatan perusahaan memang sangat berkaitan dengan trafik keluar masuk (throughput) peti kemas. Pada 2019, trafik arus peti kemas berhasil dipertahankan di angka 7,6 juta TEUs. “Figur ini cukup positif dengan adanya tantangan perlambatan perekonomian dunia,” ujarnya.

Sepanjang 2019, lanjut Arif, IPC terus menambah kedatangan kapal-kapal besar. Saat ini, dalam sebulan minimal terdapat 8 kapal raksasa (mother vessel) berkapasitas di atas 10.000 TEUs yang berlabuh di Tanjung Priok.

Untuk menjaga trafik peti kemas, IPC juga terus memperbanyak rute-rute pelayaran langsung (direct call) ke berbagai benua. “Saat ini Tanjung Priok sudah melayani direct call dengan rute ke Amerika, Eropa, Australia dan China” jelasnya.

Meskipun tren kenaikan laba bersih korporasi berhasil dipertahankan, Arif mengakui ada beberapa catatan untuk perbaikan kinerja perusahaan ke depan. Apalagi tahun ini IPC dihadapkan pada situasi yang penuh tantangan, dimana pandemi corona (Covid-19) sangat berpengaruh pada trafik peti kemas.

“Kondisi ini terjadi di hampir semua pelabuhan dunia. Namun kami akan tetap berupaya agar kinerja perusahaan terjaga,” katanya.

Dia menerangkan, pada Januari-Februari 2020, terjadi penurunan throughput peti kemas sebesar 5,13% sebagai dampak langsung dari pandemi Covid-19, yang penyebarannya dimulai di Wuhan, China, sejak Desember 2019. Namun penurunan arus peti kemas dua bulan pertama 2020 bisa sedikit tertahan pada Maret.

“Kita berharap pandemi global Covid-19 segera berlalu dan aktivitas produksi, ekspor maupun impor bisa bergerak naik,” ujar Arif.

Sejak kuartal pertama 2020, IPC sudah merespons pelambatan ekonomi global dengan melakukan pengaturan pelayanan yang efektif, dengan tetap mengutamakan kualitas pelayanan dan operasional.

Arif mencontohkan operasional pelayanan kepelabuhanan di terminal terus berjalan dengan pengaturan deployment yang diperhitungkan sesuai dengan jadwal kedatangan kapal sehingga dapat tetap terlayani dengan baik di tengah pembatasan aktivitas masyarakat secara umum. (hlz/hlz)


Komentar