Kamis, 16 Juli 2020 | 01:15 WIB

Visit our social media :
Home / Transportation / Ports
Rabu, 19 Februari 2020 17:28

Pelabuhan Kijing Ditargetkan Layani Ekspor CPO Kalbar 3 Juta Ton per Tahun

Aidikar M. Saidi
Proyek Pelabuhan Kijing, Mempawah, Kalbar

PONTIANAK - Sedikitnya 3 juta ton ekspor produk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) produksi Kalimantan Barat diharapkan bisa dikapalkan melalui Pelabuhan Kijing, Mempawah.

Dari target Kaltim dengan 1 juta hektare sawit, Kalteng 2 juta hektare, Kalbar 2 juta hektare dan Kalsel sekitar 750 hektare, totalnya akan mencapai 6 juta hektare yang otomatis memerlukan pelabuhan besar dan strategis.

"Potensi Kalimantan Barat saja bisa 3 juta CPO per tahun, belum termasuk potensi seluruh Pulau Kalimantan, " kata General Manager IPC/ Pelindo II Cabang Pontianak Adi Sugiri, yang didampingi Deputi GM Hukum dan Pengendalian Internal Muhammad As’ad Mustafa kepada Translogtoday, Selasa (18/2).

Pembangunan Kijing merupakan salah satu proyek strategis PT Pelabuhan Indonesia II (Persero). Saat ini konstruksi pelabuhan tersebut sudah mencapai 44,6%.

Pelindo II menargetkan 1 km dermaga dan trestle 3,5 km serta kedalaman 15 LWS, diharapkan pada Maret 2020 sudah tersambung. Saat ini, dikerjakan secara pararel dari sisi laut dan sisi darat, bahkan untuk lapangan penumpukan (container yard) peti kemas sudah selesai dikerjakan kurang lebih 25%.

Menurut dia, pencapaian lapangan penumpukan sampai 25% tersebut terkesan terlambat disebabkan karena di lokasi itu ada sebidang tanah harus segera diselesaikan dengan pemilik tanah tetapi ini sudah clear.

“Dari 200 hektare izin prinsip pengadaan tanah di Pelabuhan Kijing, seluruhnya sudah dinyatakan selesai 100%. Sedangkan untuk konstruksi sudah hampir mencapai 50% dari sisi laut,” kata Adi.

GM IPC Kijing

IPC Pontianak sedang mengurus pengoperasian dengan penetapan DLKp dan DLKr perairan untuk pemanduan dan penundaannya. Sebab setelah dermaga tersebut selesai, tim penilai dari Kementerian Perhubungan akan melakukan evaluasi untuk mengeluarkan ixin operasi.

Rencananya, soft launching akan dilakukan pada Juli 2020. Dia mengatakan pembangunan Pelabuhan Kijing merupakan proyek yang sesuai tahapan (on the track), karena dalam pembebasan tanah itu diserahkan kepada Tim Pembebasan Tanah oleh BPN Mempawah.

Untuk pembebasan tanah proyek strategis nasional ditangani oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan tim apprasial yang indepeden. ” Pelindo II intinya hanya sebagai juru bayar,” ujarnya.

Adi menyebutkan bahwa pembangunan Pelabuhan Kijing tahap pertama ini membutuhkan biaya Rp5,1 triliun dan total mencapai Rp 11 triliun.

Keberadaan Pelabuhan Kijing diharapkan mendongkrak PAD (Pendapatan Asli Daerah) Kalimantan Barat dari kegiatan ekspor, serta kapal pesiar untuk parawisata.

”Selama ini, ekspor komoditas CPO dan karet melalui Pelabuhan Belawan, Dumai dan Tanjung Priok. Ke depan pelabuhan samudera Kijing ini juga akan dapat direct call tanpa melalui pelabuhan lainnya,” ungkap Adi.

Menurut dia, Pelabuhan Dwikora Pontianak yang berada di Sungai Kapuas sudah tidak dapat lagi untuk dioptimalkan pengembangannya. Apalagi kedalaman Sungai Kapuas sebagai alur pelayaran wajib dikeruk, khususnya bouy 3-4, yang menelan biaya sekitar Rp70 miliar per tahun.

“Pemerintah Provinsi Kalbar sangat mendukung pembangunan Pelabuhan Kijing Mempawah sebagai Proyek Strategis Nasional, yakni dengan pelebaran jalan di kawasan Senggiring dan rencana pemindahan akses jalan dari Desa Limau menuju Kelapa Empat,” jelas Adi.

Dia menambahkan, rencana kerja sama pembangunan jalan bebas hambatan Pontianak – Kijing Mempawah akan dilakukan oleh Gubernur Kalbar Sutarmidji, yakni dengan penandatanganan nota kesepahaman bersama dengan perusahaan Malaysia Art Tuhfah Ventus. (hlz/hlz)


Komentar