Kamis, 16 Juli 2020 | 01:48 WIB

Visit our social media :
Home / Regulation / Customs
Jumat, 27 Desember 2019 14:24

Belanja Online Didominasi Barang Impor, ALFI: Hapus Konsep De Minimis!

Aidikar M. Saidi

JAKARTA - DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mengusulkan penghapusan konsep nilai pembebasan (de minimis) atas barang kiriman impor dari belanja online atau e-commerce.

“Jika diamati penerapan de minimus sejak awal lebih cocok berlaku untuk barang bawaan penumpang saja,” kata Wakil Ketua Umum Bidang Supply Chain, e-Commerce dan Multimoda DPP ALFI Trismawan Sanjaya, Jumat (28/12).

Dia menegaskan DPP ALFI sejak awal sudah mengusulkan agar konsep de minimus atas barang belanja impor melalui online (PMSE) dihapus. Artinya, semua barang impor melalui belanja online harus dikenakan bea masuk dan pajak dalam rangka impor sesuai dengan ketentuan umum. 

Menurut Trismawan, transaksi perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE) pada kenyataannya masih didominasi produk impor dan hampir sebagian besar platform belanja online sudah dikuasai pemodal luar negeri.

“Perkembangan ini sudah begitu banyak memberikan pembelajaran baru bagi kita, antara lain semakin maraknya kasus splitting, defisit neraca perdagangan melalui sistem elektronik, semakin lemahnya daya saing produk nasional di pasar global, dan lemahnya jaminan konsumen terhadap kualitas produk,” ujarnya.

Dia menyampaikan hal itu menanggapi rencana pemerintah menyesuaikan de minimis atas barang kiriman dari belanja online atau e-commerce dari sebelumnya US$75 menjadi US$3 per kiriman (consignment note) untuk bea masuk.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi menjelaskan, salah satu alasan ketentuan baru itu karena banyak orang yang melaporkan Consignment Note (CN) di bawah US$75, padahal nilai barangnya lebih dari itu.

Ketentuan tersebut berlaku atas tiga barang, yaitu tas, sepatu dan produk tekstil seperti baju yang tarifnya PPN dan PPHnya mengikuti bea masuk tarif normal atau Most Favoured Nation (MFN).

"Bea masuk untuk ketiganya antara 15%-20% untuk tas, sepatu 25%-30%, tekstil 15-25%. Sedangkan PPNnya 10%, PPh 7,5-10% sehingga kalau ditotal menjadi lebih tinggi," paparnya. (hlz/hlz)


Komentar