Rabu, 18 September 2019 | 20:24 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Regulasi / Bea Cukai
Minggu, 21 Juli 2019 15:37

ALFI Dukung Materai Digital Masuk dalam Revisi UU Bea Materai

Aidikar M. Saidi
(repro)

JAKARTA - Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mendukung usulan Kementerian Keuangan memperluas definisi dokumen digital dengan memasukkan ketentuan mengenai materai digital dalam revisi Undang-Undang No. 13 Tahun 1985 tentang Bea Materai.

Menurut Yukki Nugrahawan, Ketua Umum DPP ALFI, usulan Kemenkeu itu sejalan dengan itu sesuai dengan Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang mengatur transaksi elektronik termasuk dokumen dan tandatangan elektronik.

"Dengan meningkatnya kebiasaan masyarakat bertransaksi melalui jaringan internet, maka akan banyak dokumen yang diproduksi dalam bentuk digital. Usulan Menkeu Sri Mulyani memperluas definisi dokumen menjadi termasuk dokumen digital dalam RUU Bea Materai sudah tepat," ujarnya, Minggu (21/7/2019).

Yukki mengatakan, ALFI sejalan dengan program pemerintah tersebut, bahkan telah menggandeng PT Peruri Digital Security untuk mengembangkan sistem label, segel security terpersonalisasi secara online di lingkungan penyedia jasa logistik.

ALFI juga mengembangkan digitalisasi logistik melalui program Smart Logistics dengan berbagai modul untuk menunjang trade financing tidak lepas dari aspek keamanan digital.

Modul-modul itu mencakup layanan impor, ekspor, track and trace, rantai pasok sampai dengan ke last mile delivery. Track and trace meliputi transport laut, darat dan udara, Internet of Things (IoT), pergudangan, depo dan data exchange (pertukaran data).

"Untuk itulah kerja sama ALFI dan Peruri Digital Security dilakukan," ujar Yukki yang juga Chairman Asean Freight Forwarder Association.

Yukki menambahkan, kerja sama global terkait platform teknologi yang berbasis communities network akan menumbuhkan keyakinan bagi para anggota ALFI untuk menggunakan platform Smart Logistics tersebut.

Platform ini diharapkan bisa beroperasi di tingkat ASEAN, beberapa negara Timur Tengah, Amerika Serikat, Jepang, Kanada, China dan Amerika Latin dengan standar keamanan digital yang mumpuni.

Keamanan digital tersebut tentunya mencakup teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber dan merupakan tren otomatisasi dan pertukaran data, termasuk cyber-fisik, IoT, komputasi awan (cloud-based) dan kognitif (cognitive computing), self-learning system, dan community-based.

Output otomatisasi ini diharapkan menciptakan kolaborasi global dan kemudahan bisnis proses logistik bagi anggota ALFI.

"ALFI mengembangkan Rantai Pasok Berbasis Digital guna meningkatkan daya saing agar Indonesia lebih kompetitif, dinamis dan inovatif, sesuai dengan visi dan misi ALFI tentunya dibutuhkan kolaborasi dari dalam dan luar negeri," kata Yukki.

Pembangunan kolaborasi digital platform tersebut juga mencakup fitur-fitur, seperti global manifest, cross border trade connectivity, dan supply chain service orchestration, sehingga ALFI bisa menjadi trade facilitator dan community network. (hlz/hlz)


Komentar