Selasa, 15 Oktober 2019 | 16:25 WIB

Kunjungi di social media :
Home / Regulasi / Ekspor-Impor
Senin, 15 April 2019 14:32

Ekspor dan Impor Naik, Neraca Perdagangan Surplus US$540 Juta

Translog Today

JAKARTA -

Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan US$540 juta pada Maret 2019, seiring dengan peningkatan ekspor sebesar 11,71% menjadi US$14,03 miliar dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Sementara itu, total nilai impor pada Maret 2019 tercatat US$13,49 miliar atau naik 10,31% menjadi dibandingkan dengan bulan sebelumnya, atau turun 6,76% dibandingkan Maret 2018.

“Dengan membandingkan total nilai ekspor dengan nilai impor sepanjang Maret 2019 itu, maka transaksi perdagangan Indonesia sepanjng mencatat surplus US$540 juta,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto, Senin (15/11).

Menurut dia, pencapai total nilai ekspor sebesar US$14,03 miliar itu didorong oleh meningkatnya ekspor nonmigas 13,00%, yaitu dari US$11.445,7 juta menjadi US$12.933,6 juta. Adapun ekspor migas turun 1,57% dari US$1.110,2 juta menjadi US$1.092,8 juta.

“Penurunan ekspor migas disebabkan oleh menurunnya ekspor hasil minyak 10,44% menjadi US$82,4 juta dan ekspor minyak mentah 23,37% menjadi US$120,3 juta, sementara ekspor gas naik 3,35% menjadi US$890,1 juta,” ungkap Suhariyanto.

Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Maret 2019 terhadap Februari 2019, menurut Kepala BPS, terjadi pada bahan bakar mineral US$401,3 juta (24,21%), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada perhiasan/permata US$31,8 juta (4,84%).

Komoditas lainnya yang juga meningkat nilai ekspornya adalah besi dan baja US$186,7 juta (40,38%); bijih, kerak, dan abu logam US$162,9 juta (110,41%); kertas/karton US$69,9 juta (21,32%); serta bahan kimia organik US$69,9 juta (33,41%).

Sementara komoditas yang menurun selain perhiasan/permata adalah ampas/sisa industri makanan US$27,3 juta (38,12%); benda-benda dari besi dan baja US$9,6 juta (9,81%); lokomotif dan peralatan kereta api US$8,2 juta (76,55%); serta garam, belerang, kapur US$6,2 juta (18,30%).

Peningkatan ekspor nonmigas Maret 2019 jika dibandingkan dengan Februari 2019, terjadi ke semua negara tujuan utama, yaitu Tiongkok (28,47%); Jepang (13,52%); Taiwan (55,77%); Amerika Serikat (8,47%); (10,37%); Korea Selatan (8,21%); Thailand (5,73%); Malaysia (3,98%); Italia (17,56%); Belanda (5,24%); Australia  (8,51%); Jerman (6,54%)  dan Singapura (0,72%).

Impor Naik

Adapun realisasi nilai impor Indonesia sepanjang 2019, menurut Suhariyanto, mencapai US$13,49 miliar atau naik 10,31% dibandingkan dengan Februari 2019. Namun apabila dibandingkan Maret 2018 turun 6,76%.

“Dari total angka tersebut, impor nonmigas Maret 2019 mencapai US$11,95 miliar atau naik 12,24% dibanding Februari 2019 dan turun 2,29% dibandingkan Maret 2018. Impor migas Maret 2019 mencapai US$1,54 miliar atau turun 2,70% dibanding Februari 2019,” jelas Suhariyanto.

Peningkatan impor nonmigas terbesar Maret 2019 dibanding Februari 2019, menurut data BPS, adalah golongan mesin dan peralatan listrik sebesar US$11,2 juta (17,04%), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan kapal laut dan bangunan terapung sebesar US$47,8 juta (67,32%).

Adapun tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Maret 2019 ditempati oleh Tiongkok senilai US$10,42 miliar (29,01%), Jepang 3,97 miliar (11,05%), dan Thailand US$2,42 miliar (6,75%). Impor nonmigas dari ASEAN 19,21% dan Uni Eropa 8,37%.

Menurut Suhariyanto, penurunan impor migas dipicu oleh turunnya nilai impor hasil migas  masing-masing US$72,2 juta (6,68%) dan US$51,8 juta (27,05%). Sedangkan nilai impor minyak mentah naik US$81,2 juta atau 26,03%. (hlz/hlz)


Komentar