Kamis, 14 November 2019 | 07:35 WIB

Visit our social media :
Home / Logistic / Industry
Selasa, 18 Desember 2018 13:39

Hingga 2023, Pasokan Batubara Domestik akan Lebih Meningkat

Translog Today
WKU Kadin Boy G. Thohir dan Menteri ESDM Ignasius Jonan (kadin )

JAKARTA - Sekitar 66% dari pembangkit listrik di tanah air merupakan pembangkit listrik berbasis batubara (PLTU) sehingga dalam kurun waktu lima tahun ke depan, pasokan batubara untuk kebutuhan PLTU dalam negeri diperkirakan akan meningkat signifikan.

Berdasarkan catatan Kadin, realisasi pada 2015 sekitar 70.8 juta ton dan di tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 177.5 juta ton. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai batubara masih memiliki peran besar sebagai salah satu pemenuhan energi di masa depan.

"Potensi batubara kita masih relatif besar. Tentunya kita harapkan ini dapat didukung dengan kebijakan dan regulasi yang tepat," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Energi Mineral, Batubara dan Listrik, Boy Garibaldi Thohir di sela-sela forum International Energy Agency (IEA) Coal Forecast to 2023 yang digelar di Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta (18/12/2018).

Pada tahun 2017, katanya, rebound ekonomi dan output hidro yang rendah telah mendorong pertumbuhan permintaan batubara di China setelah tiga tahun menurun. Meskipun dorongan energi terbarukan dan harga gas yang lebih rendah, permintaan daya tambahan sebagian dipenuhi oleh batubara.

Tak hanya itu, Indonesia sebagai salah satu produsen dan eksportir batubara terbesar di dunia juga dapat berkontribusi terhadap perekonomian, berasal dari total penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), per 13 September 2018, PNBP minerba mencapai Rp. 33,55 triliun. Jumlah tersebut telah melampaui target PNBP tahun ini yang dipatok sebesar Rp. 32,09 triliun atau sudah terealisasi 104,5%. Proporsi PNBP tersebut 70% berasal dari batubara, sedangkan 30% nya disumbang dari sektor mineral.

Batubara Indonesia dikenal sebagai batubara thermal paling ramah lingkungan di dunia, dengan penggunaan teknologi baru yang diterapkan pada proyek pembangkit listrik diharapkan dapat meminimalkan dampak lingkungan.

Saat ini telah terdapat teknologi pembangkit listrik tenaga uap yang dapat mengurangi dampak emisi CO2 yang cukup signifikan dan hemat bahan bakar, yaitu teknologi superkritikal atau ultra-superkritikal.

Di sisi lain, Indonesia juga memiliki posisi geografis strategis untuk pasar negara-negara berkembang seperti China dan India. Berdasarkan data IEA, permintaan batubara global akan stagnan hingga 2022 dan kondisi tersebut juga mempengaruhi permintaan batubara di China yang menurun secara perlahan. (aji/hlz)


Komentar